Sabtu, 26 Januari 2013

BENDUNG GERAK TEMPE SIAP DI RESMIKAN



Kepala Proyek Bendung Gerak Tempe
Pembangunan Bendung Gerak Tempe (Tempe Barrage) yang terletak di kawasan Sungai CenranaE Kecamatan Tempe terus digenjot. Proyek ini dimulai sejak peletakan batu pertama oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, 26 April lalu. 
 
Personil Bendung Gerak Tempe
Pembangunan Bendung Gerak Tempe telah rampung 100 %. Mulai dari januari 2011 sampai sekarang pekerjaannya sampai awal januari kemarin, termasuk cepat dari rencana. Eko Yulianto Kepala proyek Bendung Gerak Tempe tak sia-sia menggengjot seluruh personil untuk menyeleseaikan kegiatatan proyek. Proyek Bendung Gerak Tempe yang diperkirakan akan selesai pada akhir maret sesuai kontrak awal ternyata sebelum maret telah rampung, ini adalah salah satu keberhasilan besar.
         
Bendung Gerak Tempe telah di operasikan. (foto by Ardy)


 Proyek yang nilai 130 milyar ini anggarannya bersumber dari APBN 2010-2012 . Salah satu tujuan utama pembangunan bendunga ini adalah mencegah kekeringan danau tempe jika datang musim kemarau. Bendungan ini juga berfungsi mengatur air di danau tempe saat musim hujan, agar tidak meluap dan membanjiri pemukiman warga sekitarnya.
Bendung Gerak Tempe di sore hari yang dipenuhi pengunjung

Segala kegiatan dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan bendung gerak tempe dilakukan kerjasama secara terintergrasi oleh PT. Brantas Abipraya dan PT. Waskita Karya (Persero). 





Rabu, 26 September 2012

RINDU DAN ANGKUH



Kerinduan. Berjalan pelan-pelan di antara hati kita. Walau kita sama-sama berdiri dalam keberdiaman, jauh dari suatu kebisingan. Aku dan kamu yang saling jatuh rindu. Sama-sama yang saling jatuh gila.

Bagaimana jika aku rindu ? Seseorang kembali bertanya.
Aku diam. Entah mungkin bisa dijabarkan lewat seribu bahasa. Yang jelas, aku cuma mampu diam. Karena jika aku berbicara, aku tidak akan mampu berbicara dengan satu bahasa. Butuh banyak bahasa untuk mengungkapkan kerinduan. Jika dipaksakan cuma satu bahasa, yang ada cuma racauan. Ricuh bertubi-tubi dari bibir yang tidak lagi mampu akulturasi dengan otak yang dihimpit beban.

Kadang, jika demikian aku akan bertanya.Apa kau rindu aku?
Aku malu jika setiap kali akulah yang mengumbar kerinduan. Aku bertanya demikian karena saat itu, aku teramat rindu. Membuncah. Sulit untuk ditahan.

Banyak aku mendengar orang-orang menjadi gila. Apa aku termasuk bagian dari mereka. Gila karena kerinduan yang teramat sangat. Gila dengan debar jantung yang semakin tak kunjung menentu. Gila dengan nama-nama yang semua menjadi abstrak dan cuma ada satu nama yang begitu kentara. Gila…

Apakah kau juga sama gila seperti aku gila ?

Kadang. Jika kita telah mulai saling berbicara aku akan menjadi diam dengan sendirinya. Aku butuh waktu. Mengatur ritme jantungku. Agar tak copot dia. Aku tidak mati karena mendadak rasa bahagia mensti mulus jantungku untuk berpacu di luar kewajaran semestinya.


Iput KomaRhia, sungguh aku tidak ingin angkuh dalam mencintaimu. Berpikir ribuan tahun masa aku mulai mengerti aku memang bukan yang terbaik untukmu. Iput KomaRhia, aku tidak ingin angkuh dalam cinta ini.

Dulu, aku ingin sekali me-monopoli-mu. Menjadikanmu bagian dari hidupku, membuatmu menyatu bersamaku. Aku ingin darahmu mengalir dalam nadiku dan darahku menjadi serta darahmu. Aku ingin nafasmu menghembus dari dua lubang hidungku dan nafasku memenuhi paru-parumu. Aku ingin kau menjadi aku dan aku adalah engkau. Aku ingin kita bagai satu jiwa yang terpisah oleh badan dan pikiran. Aku ingin engkau menutupi kekuranganku dan aku menjadi sisi positif bagimu. Sungguh Iput KomaRhia, aku ingin bersatu denganmu membangun masa depan dari tangan dingin kita berdua, membangun sebuah kehidupan yang didasari oleh cinta, membuah sebuah Mahakarya agung yang tiada duanya, sebuah kolosal kehidupan yang dibangun atas dasar cinta. Sungguh Iput KomaRhia, aku menginginkan itu.

Dulu Iput KomaRhia, itu dulu. Namun hingga saat ini aku masih ingin tetap menginginkan itu, karena aku mencintaimu. Namun Iput KomaRhia, sekarang aku mulai memahami apa makna kesabaran, apa arti bahwa cinta adalah sebuah pengorbanan. Iput KomaRhia, aku belajar untuk tidak angkuh dalam memandang cinta.

Iput KomaRhia, aku belajar tentang rasa sakit mendendam saat sebuah janji terlupakan. Iput KomaRhia, aku belajar sebuah kelapangan dada saat hati berbicara kau tidak pernah menginginkan aku lebih. Aku juga belajar sesuatu Iput KomaRhia, tentang apa yang disebut air mata lelaki yang jatuh tanpa isakan dari luka hati yang amat sangat dalam. 

Sungguh Iput KomaRhia, kau adalah Guruku, kau mengajarkan sebuah cinta suci bagiku di dunia ini, sebuah cinta yang menuntut pengorbanan, sebuah cinta yang tersangkut diujung lidah untuk ditahan, sebuah cinta yang membuat aku tidak pernah mampu tidur nyenyak, sebuah cinta yang jika dia nyata maka lebih berkobar dari api neraka terpanas sekalipun. Iput KomaRhia, cinta itu membakar. Sumpah.

Iput KomaRhia, tahukah engkau tiap saat aku merasa ada jiwamu di sini. Iput KomaRhia, terkadang aku ingin bertanya Pernahkah engkau merasa seperti yang aku rasakan ini ?”
Iput KomaRhia, jujur cinta membuatku belajar akan satu hal. Cinta membuatku harus bertoleransi terhadap dirimu, dia membuatku yang awal angkuh menjadi tidak angkuh. Iput KomaRhia, sungguh aku amat sangat tidak sempurna. Iput KomaRhia, engkau putih, cantik, pintar, dan bersahaja sedangkan aku Cuma sok cakep, sok pintar, dan sok bersahaja. Aku ini tidak seperti yang terlihat. Aku hanyalah makhluk lemah dan tak memiliki kekuatan dan tekad baja, aku ini pengecut Iput KomaRhia. Aku pengecut.

Saat kau menyebut nama lelaki lain, sungguh Iput KomaRhia aku merasa bahwa engkau mencintai dia. Sungguh mereka berjuang sungguh-sungguh untuk mendapatkan perhatianmu, mereka sungguh angkuh dan aku bisa mengerti berasal darimana keangkuhan itu. Aku pernah seperti itu Iput KomaRhia, dan aku selalu mendorongmu untuk memberikan mereka perhatian lebih. Sungguh memang aku benar-benar cemburu, namun kebahagiaanmu itu yang kuutamakan. Aku tidak ingin angkuh Iput KomaRhia dalam mencintaimu.

Pernahkah engkau sadar hal itu Iput KomaRhia ? Mungkin engkau mengira bahwa aku melakukan itu karena aku memang tidak pernah memiliki hati terhadapmu, namun itu salah. Aku melakukan itu karena aku amat sangat mencintamu Iput KomaRhia. Teramat sangat.
Iput KomaRhia, ketidak-angkuhan membuatku mengerti bahwa aku harus menjadi pilihan terakhirmu, karena di dunia ini ada banyak yang lebih pantas untukmu daripada seorang aku. Iput KomaRhia, aku sungguh pathetic ya ? Asal demimu aku rela.

Sungguh Iput KomaRhia, cinta itu amat sangat membakar. Aku berharap engkau tidak akan pernah terbakar oleh cinta yang seperti ini, jangan pernah. Dan kalaupun engkau terbakar oleh cinta ini, entah mengapa dengan angkuh aku ingin engkau terbakar karenaku dan olehku. Iput KomaRhia, aku menjadi semakin tidak mengerti aku.
Iput KomaRhia… sungguh aku mencintaimu. Amat sangat. Cinta yang amat sangat membakar.

Iput KomaRhia… cukup aku yang terbakar, jangan engkau. Dan jika terbakar, jangan pernah menyesal.Demi langit, bumi, dan seluruh isinya. Aku rindu. Rindu yang mendekati gila.
Aku Yang Tidak Ingin Angkuh.
Aku Yang Sedang Terbakar.

Sabtu, 22 September 2012

MENCINTAIMU TANPA HARUS ENGKAU CINTAI



Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin yang terbaik bagi kebahagian seseorang itu. Walau itu berarti, dia berbahagia dengan orang selain diriku. Bagiku itu bukan suatu masalah. Malah aku merasa senang, bahagia yang sulit untuk dijelaskan.

Seseorang yang aku cintai pernah bertanya kepadaku, mengapa aku selalu meminta dia untuk menyukai seseorang yang sedang dia cintai ? Dalam artian, mengapa aku tidak memintanya untuk mencintai diriku sendiri.

Aku cuma ingin dia mencintaiku dengan setulus hati. Ketika di dalam hatinya aku mampu meraba ada orang lain di dalam sana, aku ingin dia menuntaskan dulu segala kegilaannya. Aku ingin dia mencerna, dia berpuas berjuang untuk cintanya. Saat dia telah lelah, saat dia telah berputus asa, saat itu ada aku di sana. Masih terus mencintainya.

Bagiku tidak masalah, ketika aku mencintai seseorang tanpa orang itu mencintai diriku. Sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kami sudah saling berikrar untuk sehidup-semati atas jawaban cinta, ketika itu dalam hati-hati kami muncul pengkhianatan. Itu yang menjadi masalah. Namun, sebelum ucap kata itu tiba, aku ingin segalanya menjadi jelas, terang, dan sejujur-jujurnya.

Aku tidak pernah meminta dia mencintai diriku. Yang aku ingin cuma satu, dia tahu bahwa aku mencintai dirinya.
Dulu sekali, ketika aku mencintai dirinya. Saat itu dia tidaklah mencintai diriku. Saat itu, seseorang telah merambas satu bagian dari hatinya. Bagiku itu bukan suatu masalah.
Saat ini, ketika aku mencintai dirinya. Dan ada desiran-desiran hati yang sama juga ada di hatinya namun dia ragu dengan rasa itu. Walau di dalam hatinya nama yang dulu masih begitu menjajah. Mengapa sekarang bagiku menjadi masalah? Tidak! Itu sama sekali bukan masalah.
Dulu ketika aku mencintai tanpa engkau mencintaiku, sekarang juga sama ketika engkau belum juga mampu tulus mencintaiku, bagiku bukan masalah. Akulah yang mencintaimu tanpa harus engkau belajar mencintaiku. 

Kalau pun engkau bertanya, mengapa aku mencintaimu ? Apa yang harus aku jawab, selain bahwa namamu telah tertulis dalam catatan takdirku.
Ketika alasan-alasan kecantikan hadir, atau ketika kebaikan, atau kepintaran, kesempurnaan, itu hanyalah alasan-alasan yang hadir ketika suatu takdir tersedia untuk dibentuk.
Kadang aku berpikir. Ribuan kilometer jarak kita. Wajahmu dan wajahku tak pernah saling bertemu. Namun, mengapa aku bisa cinta ? Terkadang, takdir memang teramat gila.
Aku akan tetap sama: mencintaimu tanpa harus engkau cintai.

Sabtu, 25 Februari 2012

LELAKI SEPENGGAL HARAP

Lelaki sepenggal harap
Mencoba menata hati dari kepingan yang terpecah
Belajar tegak berdiri dari keterpurukan
Mencoba berlari dari kesengsaraan hati
Lelaki yang selalu tertolak
Lelaki sepenggal harap

Lelaki itu terduduk pasrah. Baru saja kata-kata mematikan jiwanya, dia merasa amat sangat kalah. Tak pernah seperti ini, TIDAK PERNAH.
Wanita itu menolaknya, dengan suatu tolakan yang amat lembut namun laksana petir bagi jiwa-jiwa kecutnya, jiwa-jiwa yang tak pernah tersentuh oleh tantangan dan kedewasaan.

“Maaf, namun untuk saat ini saya tidak mau memikirkan itu,” wanita itu mencoba mengambil suatu alibi klasik untuk sebuah penolakan. Dalam hati wanita itu Sang Lelaki memang tidak pernah tercipta, tak pernah ada, bahkan walau hanya sketsa bayangan buram. Tidak pernah ada.

Lelaki itu mencoba tersenyum, seperti yang sudah-sudah mencoba menyembunyikan sedikit kekalahan terhadap wanita itu. Bagai sebuah roda yang berjalan ditempat, kejadian itu terulang kembali, kejadian yang sama, hari yang sama, jam yang sama, detik yang sama, wanita yang sama.

Maaf, maaf, maaf, selalu maaf !

Ada banyak wanita, namun hanya satu yang mampu membuat dia tergila-gila. Hanya satu. Wanita itu bernama Fitri, sebuah nama sempurna untuk wanita seperti dia. Wanita dengan bibir yang selalu tersenyum. Wanita yang memiliki bakat kejeniusan. Wanita dengan hati selembut sutera. Wanita yang pantas untuk dicintai.

Lelaki itu sudah amat sangat lelah, menahan beban rindu yang telah berfluktasi entah untuk kesekian juta kali dalam hidupnya. Beban rindu terhadap wanita yang sama, wanita yang selalu menolaknya, wanita yang tak pernah mencintainya sama sekali, wanita yang bernama Fitri. Sebuah beban rindu yang amat sangat dalam, teramat sangat.

Lelaki itu mendongkak wajahnya ke atas, menatap langit biru yang terasa amat suram hari ini. Langit biru yang sama seperti yang ditatapnya kemarin namun sekarang amat sangat menyiksa. Lelaki itu mencoba mencari Tuhan diantara celah langit-langit itu, namun Dia tidak pernah hadir di sana, tidak juga dihatinya. Lelaki itu sudah amat sangat letih, lemah, dan tak berjiwa. Dia colaps !

Tuhan, mengapa Kau menyiksaku dengan keadaan seperti ini ?

Langit hanya diam, Tuhan tak pernah bersuara menjawab pertanyaannya. Tak ada gemuruh, tak ada petir, tak ada badai. Langit tetap sama, langit cerah namun teramat menyiksa. 

Tak tahukah engkau Fitri? Betapa aku mengumpulkan keberanianku selama berbulan-bulan hanya demi pengungkapan itu. Ungkapan hati yang telah lama tersiksa, ungkapan sederhana dan singkat yang mengalir getir dari bibirku. Ungkapan yang selalu berakhir dengan penolakanmu.

Hari menyisakan sore, langit memerah jingga menandakan hendak memanggil malam. Terlalu lama dia menyelami perasaannya entah untuk berapa detik, berapa menit, atau berapa jam. Lelaki itu memandang burung-burung bebas di angkasa, mengepakkan sayap tanpa beban, burung-burung yang berkumpul membentuk huruf “F”. Matanya mengkilat karena air, namun kali ini dia tersenyum.

Lelaki itu bangkit, beranjak dari rumput kering pinggiran sungai yang tadi didudukinya. Mengambil langkah pasti untuk pulang.
Kepalanya kembali tertunduk, seperti yang sudah-sudah. Lelaki itu berjalan menunduk. Menatap getir ke arah tanah yang dihiasi rumput kering, mengambil jalan tercepat menuju kendaraannya sambil sesekali melihat tanah, takut-takut ada binatang kecil tak berdosa yang akan dipijaknya.
Starter sepeda motornya dihidupkan. Sebelum gas dinaikkan, kembali dia menegadah ke langit. Langit tetap biru, tak ada mendung, tak ada badai, dia tetap cerah. Lelaki sepenggal harap namun tidak akan pernah menyerah.
Fitri, aku tak akan menyerah. Akan kubuat engkau memikirkan itu jika jawabanmu selalu tidak ingin memikirkan itu, aku berjanji.Fitri, akan kupinang dirimu, menjadikanmu istriku, menjadikanmu ibu dari anak-anakku.